Pemikiran Kalam Moderen Menurut Muhammad Abduh

May142013
Pemikiran Kalam Moderen Menurut Muhammad Abduh

(A).Mengenai akal dan wahyu.
Menurut Dr.M.Quraisy syihab dalam studi kritis tafsir Al-manar yang di terbitkan oleh pustaka hidayah pada tahun 1994 pada halaman 19,disebutkan bahwa ada dua macam pokok pemikiran yang menjadi fokus utama pemikiran Muhammad Abduh:
1.Membahas tentang akal fikiran dari belenggu belenggu taqlid yang menghambat perkembangan pengetahuan agama sebagaimana haknya salaful ummah yakni memahami dari sumber pokok nya langsung yaitu: Al-quran dan Hadist.
2.Memperbaiki gaya bahasa arab,baik yang di gunakan dalam percakapan resmi di kantor kantor pemerintahan maupun yang di gunakan dalam penulisan di media masa.

Atas dasar kedua pemikiran diatas.Muhammad Abduh memberikan peranan yang sangat besar kepada akal.Begitu besarnya,peranan yang diberikan oleh nya sehingga Harun Nasution menyimpulkan bahwa Muhammad Abduh memberikan kekuatan yang lebih tinggi kepada akal dari pada Mu'tazilah.(Harun Nasution,Muhammad Abduh dan Teologi Rasional,Ui Press,1978,halaman 57)
Menurut Muhammad Abduh akal dapat mengetahui hal hal sebagai berikut:
a).Tuhan dan sifat sifat nya.
b).keberadaan hidup di akhirat.
c).Kebahagian jiwa di akhirat bergantung pada upaya mengenal Tuhan dan berbuat baik,sedangkan kesengsaraannya bergantung pada sikap tidak mengenal Tuhan dan melakukan perbuatan jahat.
d).Kewajiban manusia mengenal tuhan.[/colo]
e).Kewajiban manusia untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagian di akhirat.
f).Hukum hukum mengenai kewajiban kewajiban itu.

Para ahli tauhid (ilmu kalam) membagi hukum akal yang di sebut sebagar "Maklum" (al-maklum) artinya yang dapat di capai oleh akal.Ke dalam 3(tiga) kategori yaitu:wajib,mungkin,dan mustahil .Adapun Wajib ialah sesuatu yang zatnya sudah pasti ada.mungkin ialah sesuatu yang tidak ada wujudnya namun juga tidak dapat dikatakan ada zatnya.Karena zat tersebut bisa terwujud oleh sesuatu sebab yang menyebabkan adanya. Sedangkan mustahil menurut istilah ahli kalam arti nya adalah zat yang memang tidak mungkin ada. Pemakaian kata "al-maklum" kepada yang "mustahil" adalah sesuatu yang majazi (bukan hakekat yang sebenar nya). Sebab yang maklum itu adalah suatu hakekat yang mesti ada dalam kenyataannya,sesuai dengan ilmu.Tetapi yang di maksud dalam hal ini adalah sesuatu yang dapat melekatkan hukum kepadanya, sekalipun dalam bentuk yang dapat dilukiskan oleh akal,agar ia bisa menceritakan tentang hal hal yang mustahil.
Dalam hukum menggunakan hukum akal wajib di atas,Muhammad Abduh membatasi penggunaan akal dengan tidak melampaui kapasitas kemampuan akal itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya bahwa manusia akan mengalami kesulitan hakikat sejati suatu zat yang terdiri berbagai bagian,sebab untuk memahami hal tersebut manusia harur memahami unsur bagian bagian penyusunnya sampai unsur terkecil.Dalam pandangan Muhammad Abduh,akal manusia akan mengalami keterbatasan dikarenakan puncak maksimum yang mungkin diketahui adalah mengenal sifat dan bekas bekas dari sesuatu.Dalam upaya penggambaran tentang pengenalan terhadap Allah,Muhammad Abduh menyetir sebuah hadist sebagai berikut:
"berfikirlah kamu tentang makhluk Allah dan janganlah kamu berfikir tentan zat-Nya niscaya kamu akan celaka"
Dalam pandangan Muhammad Abduh berfikir tentang zat Allah sama artinya dengan mencari hakikat zat yang menjadikan dari satu sudut pandang. Hal ini terlarang bagi manusia sebab terjadi sebuah ketidak seimbangan dua wujud yang berbeda yaitu: antara wujud khalik dan wujud akal manusia. Sedangkan dari sudut pandang yang lain hal ini merupakan sebuah kesia siaan akalnya.Dengan demikian pandangan Muhammad Abduh tentang penggunaan hukum akal wajib dalam mengenal terhadap Allah swt bukan merupakan upaya untuk menelusuri hakikat zat Allah swt namun terbatas dengan mengamati ciptaan dan melihat tanda tanda kebesaran Allah swt di dalam ciptaan tersebut.Dalam hal ini beliau juga menolak penggunaan akal secara berlebihan sehingga keluar dari kaedah berfikir yang besar.Dengan memperhatikan pandangan Muhammad Abduh tentang peranan akal diatas dapat diketahui pula bagaimana fungsi wahyu baginya. Menurutnya wahyu adalah penolong (al-mu'in), kata ia pergunakan untuk menjelaskan fungsi wahyu bagi akal manusia. Menurutnya wahoyu merupakan penolong akal manusia untuk mengetahui sifat dan keadaan kehidupan alam akhirat; mengatur kehidupan masyarakat atas dasar prinsip prinsip umum yang dibawa nya: menyempurnakan pengetahuan akal tetang Tuhan dan sifat sifat-Nya dan mengetahui cara beribadah seta bersyukur kepada tuhan.

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images


 
Back to Top